Sabtu, 06 April 2013

First Edellweis-Anaphalis Javanica


Belajar dari bunga edellweis..
Bunga putih berseri, sedap elok dipandang mata, bergumul menjadi satu, tanda persahabatan diantaranya, semampai indah wujudnya ternyata menyimpan begitu banyak hikmah untuk kita, untuk makhluk yang  Allah ciptaan sebagai penjaga alam semesta. Karena itu, mari kita belajar dari Edellweis ..
Edelweis, sebuah bunga yang disebut-sebut sebagai bunga abadi, ternyata Allah menyimpan banyak hikmah untuk manusia didalamnya. Bunga ini, pertama kali aku lihat tumbuh disebuah tempat bernama surya kencana, alun-alun yang berada beberapa ratus meter sebelum puncak gunung gede.
Edelweis, putih kecil, tak terlalu harum, namun tak mengurangi kecantikannya. Setiap bunganya yang gugur dan jatuh menyentuh tanah, dengan izin allah bunga tersebut akan tumbuh kembali menjadi satu pohon edellweis yang baru. Keunikannya ini yang menjadikannya mendapat julukan “The Immortal Flower” atau Bunga Abadi.
Bunga ini mampu hidup dengan suhu yang menurutku di Surya Kencana itu dibawah 18 derajat celcius. Dengan suhu serendah itu, banyak pendaki yang berada di SK menggigil tak karuan, berusaha mencari tempat paling hangat untuk istirahat atau bahkan secara tidak sengaja mengutuk Tuhan-Nya dengan mengatakan “Sialan, dingin banget disini”. Namun tidak dengan si kecil Edelweis, tetap mentaati ketetapan Tuhan-Nya dan mensyukuri nikmat Tuhan-Nya ditempat ia tumbuh.
Dia tetap tumbuh dengan terus menebar keindahan, tak peduli apapun keadaan disekitarnya, dinginkah, panaskah dia tetap memiliki keyakinan kepada Allah, bahwa keadaan disekitarnya itu tak menjadikan dirinya takluk, karena dia memiliki sandaran yang kuat. Dia Memiliki Tuhan Yang Maha Besar, Allah SWT. Seperti itulah seharusnya manusia, menjadi manusia yang selalu yakin akan Allah, Tuhan-Nya.
Edelweis mengajarkan kita untuk senantiasa bangkit dari keterpurukan. Gugurnya sehelai edellweis, mampu menghasilkan puluhan bunga yang sama atau bahkan jauh lebih indah dari sebelumnya. Begitulah seharusnya kita manusia dalam menghadapi keterpurukan dalam hidup kita.
Berapa kalipun kita gagal, jangan pernah anggap itu sebagai kegagalan, jadikan itu sebuah penemuan, penemuan ‘cara yang salah’. Karena seorang penemu tak pernah langsung berhasil dalam percobaannya, mereka juga pernah gagal, tapi mereka menganggap kegagalan mereka adalah penemuan ‘cara yang salah’, bukan penemuan ‘kegagalan’. Dan kita harus meyakini bahwa kita akan dan pasti menemukan suatu ‘cara yang benar’ untuk menghadapi permasalahan yang Allah ujikan.
Kita sering berada dibawah roda kehodupan, ketika kondisi kita seperti itu, sungguh indah jika kita menjadi seperti edelweis yang gugur, dia bisa tumbuh kembali menjadi bunga, mengapa kita manusia yang ‘gugur’ dalam ujian-Nya tak mampu bangkit kembali menjadi manusia yang memiliki ‘bunga’ yang indah?
Seandainya kita memiliki kelebihan yang Allah berikan, maka yakinlah, ada kekurangan dalam diri kita. Jangan pernah sombongkan kelebihan itu dihadapan orang lain. Jadilah seperti Edelweis, dia memiliki keindahan dengan keabadian, namun dia memiliki kekurangan, yaitu harumnya tak semerbak seperti bunga yang lainnya. Bunga seindah edellweis pun memiliki kekurangan, maka manusia seindah apapun, pasti memiliki kekurangan, karena itu jangan pernah sombong dengan apa yang kita miliki saat ini.
Banyak anak yang tamak dengan ilmu yang dia miliki, sampai-sampai tidak sadar menyakiti perasaan temannya dengan kesombongan yang dia lakukan, entah sengaja atau tidak. Banyak juga anak muda yang sombong dengan hartanya, dipamerkan ke segala penjuru agar teman-temannya mengetahui bahwa dia anak yang berkecukupan, atau bahkan kelebihan harta. Ingatlah teman, semua itu akan sirna seiring berjalannya waktu. Ingatlah teman, aku dan kalian memiliki ‘borok’ yang hanya Allah saja yang tahu. Ingatlah selalu teman, aku dan kamu diciptakan seideal mungkin, seimbang antara kelebihan dan kekurangan
Terkadang aku berfikir, jangan-jangan apa yang aku anggap dalam diriku ini suatu kelebihan, ternyata itu adalah kelemahan besar di mata Allah. Pernahkan kalian berfikir seperti itu?
Namun, sekarang yang aku fikirkan adalah jangan pernah merasa malu dengan kekurangan yang kita punya, sekali lagi jadilah seperti edellweis, dia menjadikan kelebihannya untuk menjadi sebuah pemandangan yang indah di Surya Kencana , sebuah pemandangan yang bisa membuat para pendaki  yang sudah 7 jam berjalan, kembali sejuk hatinya dan tersenyum kembali wajahnya.
Jadikan kelebihan kita untuk membuat orang lain tersenyum, bukan membuat orang lain meerasa sakit hati atau kecewa, ketika kita berada diatas roda kehidupan,, ingatlah edelweis, dia akan gugur setelah berkembangnya, dia pernah berada diatas dan juga pernah dibawah. Ingatlah, tak selamanya kita berada diatas, karena pasti kita akan mengalami berada dibawah. Tak selamanya kita menang, pasti ada kalanya kita mengalami keterpurukan. Ketika kita berada dalam keterpurukan, ingat kalimat ini, takkan ada kebangkitan tanpa ada keterpurukan.






1 komentar:

  1. Mbak, saya tertarik sama salah satu gambar anaphalis javanica nya... ijin copy ya...
    terimakasih banyak sebelumnya lho Mbak... :))

    BalasHapus